Apa Itu Pajak Deposito? Ini Cara Menghitung Pajak Bunga Deposito

Pajak Deposito menjadi salah satu jenis pajak yang banyak dibayar oleh wajib pajak. Kondisi ini terjadi karena deposito sering dijadikan pilihan untuk investasi. Alasannya karena investasi deposito menawarkan banyak keunggulan, salah satunya suku bunga yang diberikan lebih tinggi dibandingkan tabungan. Selain itu, keamanannya sangat terjamin.

Ketika memilih deposito sebagai pilihan investasi, jangan hanya terpaku pada keunggulannya tetapi juga pertimbangkan pajak deposito yang dikenakan. Investor deposito diwajibkan untuk membayar pajak karena bunga yang diberikan cukup tinggi. Dimana bunga yang didapatkan akan menjadi objek pajak. Hal ini berarti dana akhir yang didapatkan sudah dipotong pajak.

Bingung Soal Pajak? Hubungi Jasa Konsultan Pajak di Nomor Whatsapp : 081350882882

Pajak deposito masuk ke dalam pajak penghasilan. Pajak atas suku bunga deposito ini juga sudah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Dengan begini maka setiap orang yang menginvestasikan uangnya ke dalam deposito wajib membayar pajak. Bagi Anda yang belum memahami jenis pajak ini dan bagaimana cara menghitung pajak bunga deposito. Langsung saja simak pembahasan lengkapnya dibawah ini.

Apa Itu Pajak Deposito?

Apa Itu Pajak Deposito?

Sumber foto : Harmony.co.id

Sebelum membahas pengertian pajak deposito, mari lebih mengenal deposito. Deposito merupakan salah satu instrumen investasi yang banyak dipilih oleh masyarakat. Sedangkan pengertian deposito adalah salah satu produk simpanan bank yang mana penyetoran atau penarikannya hanya bisa dilakukan pada saat tertentu saja. Hal ini dikarenakan investasi deposito memiliki jangka waktu. Mulai dari 1, 3, 6, 12 hingga 24 bulan.

Jika nasabah ingin mengambil uang yang disimpan dalam deposito maka nasabah tersebut akan mendapatkan denda penalti. Semakin besar dalam semakin lama uang disimpan dalam bentuk deposito, maka semakin besar pula suku bunga yang akan didapatkan oleh nasabah.

Ada banyak alasan kenapa investor memilih menyimpan uangnya ke dalam bentuk deposito, salah satu alasannya yaitu suku bunga deposito lebih tinggi dari tabungan. Selain itu, investasi deposito sudah dijamin oleh pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sehingga terjamin keamanannya.

Baca Juga : Pajak Dividen: Tarif, Contoh Perhitungan dan Cara Lapor Pajak Dividen

Pajak deposito adalah salah satu jenis pajak yang tercantum sesuai PPh Pasal 4 ayat 2 yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Pajak bunga deposito adalah Pajak Penghasilan (PPh) yang dikenakan atas penghasilan dari bunga deposito yang diterima. Adapun isi dari PPh Pasal 4 ayat 2 adalah pajak penghasilan atas penghasilan-penghasilan tertentu yang bersifat final serta tidak dapat dikreditkan dengan Pajak Penghasilan terutang.

Adanya pajak deposito ini artinya saat Anda mencairkan dana deposito maka suku bunga deposito yang diterima tidak sama persis. Alasannya karena bunganya sudah dikurangi untuk pembayaran pajak yang dibebankan atas suku bunga deposito yang didapatkan tersebut. Penghitungan PPh untuk bunga deposito diambil dari suku bunga bukan dari jumlah total uang deposito yang dimiliki.

Ini berarti saat suku bunga yang diterima semakin besar maka pajak yang harus dibayar semakin besar pula. Dasar pengenaan pajak atas bunga adalah PPh Pasal 4 Ayat 2 sehingga bunga deposito menjadi objek yang dikenai pajak seperti halnya yang disebutkan dalam PPh ini.

Aturan Pajak Deposito Terbaru

1. PPh Pasal 4 Ayat 2

PPh Pasal 4 ayat 2 yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Adapun isi dari PPh Pasal 4 ayat 2 adalah pajak penghasilan atas penghasilan-penghasilan tertentu yang bersifat final serta tidak dapat dikreditkan dengan Pajak Penghasilan terutang.

Pajak penghasilan (PPh) Pasal 4 ayat 2 merupakan salah satu pajak penghasilan yang sifatnya sudah final. Ini berarti pajak tersebut tidak bisa dikreditkan ataupun dikurangi dari total pajak penghasilan (PPh) terutang pada akhir tahun pajak.

Pemotongan PPh Pasal 4 Ayat 2 ini hanya bisa dilakukan oleh pemberi penghasilan. Wajib pajak badan ditujukan untuk memotong pajak penghasilan (PPh) Pasal 4 Ayat 2, sementara  wajib pajak orang pribadi tidak ditunjuk untuk memotong PPh Pasal 4 Ayat 2 ini.

Sebagai pajak penghasilan yang sifatnya final, ini berarti saat wajib pajak sudah melunasi pajaknya maka kewajiban pajaknya sudah selesai. Penghasilan yang dikenakan PPh final tidak digabungkan dengan jenis penghasilan lainnya yang tidak bersifat final.

2. KMK-51/KMK.04/2001

Keputusan Menteri Keuangan ini berisi tentang pemotongan pajak penghasilan atas bunga deposito dan tabungan serta diskonto Sertifikat Bank Indonesia. Penghasilan atas bunga deposito berjangka, sertifikat deposito dan tabungan akan dikenakan PPh sebesar 15% dan bersifat final. Untuk keperluan pemotongan PPh dilakukan oleh Bank dan lembaga keuangan bukan bank.

Pemotongan pajak dan masih tetap ditangguhkan pengenaan pajaknya adalah bunga atas deposito berjangka, sertifikat deposito dan juga tabungan yang nilai keseluruhan deposito dan tabungan untuk setiap deposan atau penabung tidak lebih dari jumlah tertentu yang ditetapkan Menteri Keuangan.

Bingung Soal Pajak? Hubungi Jasa Konsultan Pajak di Nomor Whatsapp : 081350882882

3. Peraturan Pemerintah No 131 Tahun 2000

Menurut Peraturan Pemerintah No 131 Tahun 2000 mengenai pengecualian pemotongan PPh atas Bunga deposito, tabungan dan Diskonto SBI. Peraturan Pemerintah tersebut berisi bahwasanya bunga deposito yang dikenakan pajak deposito jika jumlahnya tidak lebih dari Rp 7.500.000 rupiah.

Jadi, jika Anda memiliki deposito kurang dari Rp 7.500.000 rupiah maka suku bunga deposito tidak akan dipotong untuk membayar pajak. Selanjutnya Anda tinggal mencari bank yang menawarkan produk deposito yang bisa dibuka dengan nominal kurang dari Rp 7.500.000 rupiah.

4. Peraturan Dirjen Pajak No PER-01/PJ/2015

Peraturan Dirjen Pajak tersebut berisi tentang Penyerahan Bukti Potong Pajak atas Bunga Deposito. Aturan tersebut berisikan kewajiban pelaku perbankan atau bank supaya melaporkan Bukti Potong Pajak atas Bunga Deposito dari nasabah secara rinci. Sebelumnya bank hanya perlu melaporkan bukti potong pajak secara umum saja tidak secara rinci.

Dalam peraturan ini, pelaku perbankan harus menyertakan data tentang PPh, termasuk buki potongannya untuk aparatur pajak. Akan tetapi, aturan pajak ini kemudian dicabut karena dosa hukumnya tidak memadai.

Tarif Pajak Deposito 2022

Tarif Pajak Deposito 2022

Sumber foto : Pinhome.id

Berapa tarif pajak deposito 2022? Tarif pajak deposito yaitu sebesar 20%. Tarif tersebut berlaku jika nasabah memiliki deposito lebih dari Rp 7.500.000. Nantinya suku bunga yang didapatkan nasabah akan dikurangi besaran pajak tersebut.

Ini juga termasuk bunga yang diterima dari deposito ataupun tabungan yang ditempatkan di luar negeri melalui bank yang ada di Indonesia atau cabang luar negeri di Indonesia. Besaran sama yaitu 20% jika mencapai Rp 7.500.000.

Baca Juga : Jasa Pengurusan Pajak Perusahaan | Tips Memilih Jasa Pengurusan Pajak

Suku bunga deposito akan berubah pada setiap bank dalam periode waktu tertentu. Supaya nasabah bisa mendapatkan keuntungan maka harus memilih bank yang memberikan suku bunga tinggi.

Adanya pajak deposito ini berarti dana akhir yang didapatkan nasabah sudah dikenakan potongan pajak. Jadi, tidak perlu kaget jika suku bunga yang diterima tidak sama dengan penghitungan. Penyebabnya yaitu suku bunga deposito sudah dikurangi untuk membayar pajak.

Cara Menghitung Pajak Bunga Deposito

Cara untuk menghitung pajak bunga deposito ini cukup mudah. Dimana Anda hanya perlu mengalikan 20% dengan suku bunga deposito yang diterima.

1. Cara Menghitung Keuntungan Bunga

Rumus : Suku Bunga Deposito x Jumlah Hari Menyimpan Uang (365 hari)

Contoh:

Pak Doyok merupakan nasabah bank BRI yang menyimpan uang ke dalam deposito sebesar Rp 100 juta rupiah untuk jangka waktu atau tenor 12 bulan dan bunga depositonya sebesar 1,9%.

Maka penghitungannya = 1,9% x Rp 100 juta x 365 hari

= Rp 1.900.000

Jadi, Pak Doyok akan mendapatkan bunga deposito sebesar Rp 1.900.000 juta selama 12 bulan.

Bingung Soal Pajak? Hubungi Jasa Konsultan Pajak di Nomor Whatsapp : 081350882882

2. Menghitung Pajak Deposito

Rumus = Tarif Pajak x Bunga Deposito

= 20% x Rp 1.900.000

= Rp 380.00

3. Menghitung Pengembalian Deposito

Rumus = Nominal investasi + (Keuntungan Bunga Deposito – Pajak Deposito)

= Rp 100.000.000 + (Rp 1.900.000 – Rp 380.000)

= Rp 101.000.520

Contohnya lainnya yaitu:

Ibu Shinta memiliki deposito sebesar Rp 50 juta rupiah di bank. Dari uang yang didepositokan tersebut, ibu Shinta akan mendapatkan bunga deposito sebesar 5% per tahun. Jadi, bagaimana penghitungan pajak yang harus dibayarkan Ibu Shinta?

Bunga Deposito:

Bunga deposito per tahun = Rp 50.000.000 x 5%

= Rp 2.500.000

Bunga deposito per bulan = Rp 2.500.000 : 12

= Rp 208.333

Maka pajak bunga depositonya adalah sebagai berikut:

Pajak deposito per bulan = 20% x Rp 208.333

= 41.666

Pajak deposito per tahun = Rp 41.666 x 12

= Rp 499.992

Bingung Soal Pajak? Hubungi Jasa Konsultan Pajak di Nomor Whatsapp : 081350882882

Setelah Anda mengetahui besaran pajak deposito, maka Anda bisa mengkalkulasikan berapa suku bunga yang akan diterima setiap bulan ataupun setiap tahu. Untuk penghitungannya Anda hanya perlu mengurangi bunga deposito per bulan atau per tahun dikurangi dengan pajak deposito dari bunga per bulan atau per tahun.

Suku Bunga yang diterima per bulan = Bunga deposito per bulan – pajak per bulan

= Rp 208.333 – Rp 41.666

= Rp 166.667

Jadi, suku bunga yang akan diterima per bulannya sebesar Rp 166.667

Suku bunga yang diterima per tahun = Bunga deposito per tahun – pajak per tahun

= Rp 2.500.000 – Rp 499.992

= Rp 2.000.008

Jadi suku bunga yang akan diterima adalah Rp 2.000.008.

Dari penghitungan pajak bunga deposito diatas berarti tidak semua bunga deposito diterima oleh nasabah. Akan tetapi, bunga deposito yang didapatkan akan dikurangi untuk membayar pajak.

Tips Memilih Jasa Konsultan Pajak

Tips Memilih Jasa Konsultan Pajak

Sumber foto : Businesstoday.in

Masyarakat yang semakin melek pajak membuat keberadaan jasa konsultan pajak menjadi dibutuhkan. Kondisi ini membuat jumlah konsultan pajak terus meningkat. Bahkan hampir semua kota di Indonesia terdapat konsultan pajak. Banyaknya konsultan pajak tentu akan membuat Anda bingung dalam memilih yang terbaik. Berikut ini adalah tips memilih jasa konsultan pajak:

Baca Juga : Cara Lapor SPT Tahunan 2022 Terbaru dari Awal Sampai Selesai

1. Pilih Konsultan Pajak yang Sudah Memiliki Izin Praktik

Tips yang pertama yaitu pilihlah konsultan pajak yang sudah memiliki izin praktik. Izin praktik konsultan pajak dikeluarkan oleh DJP dan hanya berlaku salam 2 tahun saja. Saat masa izinnya habis maka harus segera mengajukan perpanjangan. Izin praktik yang dimiliki konsultan pajak menunjukkan bahwa konsultan pajak tersebut sudah memiliki izin resmi dan pastinya sudah terkualifikasi.

Izin praktik yang dimiliki juga berarti konsultan pajak tersebut sudah memiliki persyaratan yang memadai, seperti memiliki sertifikat konsultan pajak, menjadi anggota asosiasi konsultan pajak dan berkelakuan baik. Dengan begini maka konsultan pajak tersebut sudah bisa dikatakan profesional dan akuntabilitasnya sudah terjamin.

2. Pilih Konsultan Pajak yang Berpengalaman dan Profesional

Cara untuk mengetahui konsultan pajak tersebut berpengalaman dan profesional adalah dengan melihat rekam jejaknya dalam menangani permasalahan klien. Anda bisa mencari tahu informasi mengenai hal ini dengan cara bertanya langsung kepada orang yang pernah menggunakan jasanya atau bisa juga membaca review klien di media sosialnya.

Konsultan pajak yang berpengalaman dan profesional tidak akan pernah melakukan pengemplangan pajak atau pelanggaran pajak lainnya yang dilarang oleh peraturan perpajakan. Konsultan pajak profesional tidak akan pernah sekalipun menyarankan kliennya untuk melakukan pelanggaran pajak.

3. Pilih Konsultan Pajak yang Bisa Dijadikan Partner

Sebagian besar orang menggunakan jasa konsultan pajak dengan tujuan untuk mempekerjakannya dan berpikir hanya akan “terima beres” saja dengan semua hasil kerjanya. Pemikiran seperti ini sebaiknya dihilangkan karena alangkah lebih baik memilih  konsultan pajak yang bisa dijadikan partner.

Jika konsultan pajak tersebut bisa dijadikan partner maka akan membantu kesuksesan usaha yang Anda jalankan. Dengan begini maka hubungan Anda dengan konsultan pajak menjadi lebih terbuka dan ada kepercayaan lebih untuk mendukung potensi perusahaan.

Bingung Soal Pajak? Hubungi Jasa Konsultan Pajak di Nomor Whatsapp : 081350882882

4. Sesuaikan dengan Budget yang Dimiliki

Menggunakan jasa konsultan pajak berarti Anda harus mempersiapkan uang untuk membayar jasanya. Setiap konsultan pajak biasanya akan memasang tarif berbeda-beda tergantung jenis pelayanan yang dibutuhkan klien. Bahkan ada juga konsultan pajak yang memasang biaya per jam. Ada juga yang menerapkan sistem long term, tergantung jumlah pekerjaan yang harus dilakukan.

Bagi Anda yang ingin menggunakan jasa konsultan pajak, disarankan untuk memilih konsultan pajak sesuai dengan bujet yang dimiliki. Selain itu, juga disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

5. Mencari Rekomendasi dari Rekan Bisnis

Tips memilih konsultan pajak selanjutnya yaitu mencari rekomendasi dari rekan bisnis yang pernah menggunakan jasa konsultan pajak. Tanyakan secara detail mengenai kinerja konsultan pajak tersebut, penilaian rekan bisnis dan fasilitas apa saja yang disediakan jasa tersebut. Dengan begini maka Anda bisa mengetahui rekam jejak dari jasa konsultan pajak tersebut sebelum memutuskan untuk menggunakan jasanya.

6. Pilih Konsultan Pajak yang Patuh Terhadap Undang-Undang

Konsultan pajak yang profesional tidak akan memilih untuk melakukan tax avoidance (Penghindaran Pajak Secara Legal) dari pada tax evasion (penggelapan Pajak). Jika konsultan pajak yang akan Anda pilih menawarkan hal tersebut sebaiknya harus berhati-hati karena tindakan seperti ini melanggar hukum. Jika ketahuan maka akan sangat merugikan.

Konsultan pajak yang baik pasti akan patuh terhadap Undang-undang perpajakan yang berlaku. Jika konsultan pajak melakukan penggelapan pajak dan ketahuan maka izin prakteknya akan dicabut oleh Direktorat Jenderal Pajak.

7. Memiliki Kantor yang Jelas

Tips yang terakhir pastikan konsultan pajak yang akan dipilih memiliki kantor yang jelas dan mudah ditemukan. Selain itu, pastikan jasa konsultan pajak tersebut memiliki website resmi dan nomor kantor yang bisa dihubungi.

Bingung Soal Pajak? Hubungi Jasa Konsultan Pajak di Nomor Whatsapp : 081350882882

Kesimpulan

Dari penjelasan diatas diketahui bahwa pajak deposito menjadi jenis pajak yang harus dibayar oleh nasabah yang menyimpan uangnya dalam deposito dengan nominal lebih dari Rp 7.500.000 rupiah. Jika uang yang didepositokan kurang dari nominal tersebut maka tidak akan dikenakan pajak. Tarif pajak yang harus dibayar yaitu 20%.

Karena potongan pajak deposito ini maka suku bunga yang akan diterima saat mengambil uang tersebut akan berbeda. Ini dikarenakan suku bunga yang didapatkan sudah dipotong pajak. Perlu diketahui jika yang dipotong suku bunganya bukan nominal uang yang didepositokan.

Permasalahan tentang pajak bisa diselesaikan dengan baik apabila menggunakan jasa konsultan pajak. Menggunakan jasa konsultan pajak juga bertujuan untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam penghitungan, pembayaran maupun pelaporan pajak. Rekomendasi jasa konsultan pajak terbaik adalah Proconsult.id. Proconsult.id merupakan konsultan pajak profesional dan berpengalaman.